


menapak jalan keakar mencari asal usul jurus Payung Rasul

Pertemuan tradisi Margaluyu Pusat 12 Rabiul awal 1430H, di Cikuya Cicalengka dilaksanakan bersamaan dengan hajat sesepuh bapak Idit Junaidi mengkhitankan cucu beliau. Dalam pertemuan ini diramaikan dengan pertunjukan Pencak Silat sehingga acara menjadi semarak. Puncak acara adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Abot Dhuwur Mikul Ngisor.
Ada unkapan dalam filosofi jawa yang berbunyi “Abot Dhuwur Mikul Ngisor”, Ungkapan ini memang sekarang tidak populer lagi. Khususnya di kaum muda.
Secara harafiah ungkapan ini sulit di untuk diterjemahkan kedalam pengertian bahasa Indonesia. Akan tetapi makna yang tersirat dari ungkapan ini, mengacu pada besar tanggung jawab yang menjadi beban seseorang yang telah dewasa. Dalam arti jika sudah memilki keluarga, istri dan anak.
Dalam budaya kita, Lelaki memiliki kodrat sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Maka tuntutan untuk bertindak sebagai pemimpin menjadi hal yang mutlak diperlukan. Inilah arti dari ungkapan “Abot Dhuwur”.
Layaknya sebagai pemimpin, tentu ada hal2 yang harus dipersiapkan.Antara lain sikap dan budi pekerti luhur yang layak untuk di teladani, baik diteladani oleh orang lain (teman se usia) maupun kepada istri maupun anak2nya.
Yang menjadi pertanyaan. Apakah pekerti kita sudah siap ?
Sejauh mana kita menghormati keluarga sendiri ?
Sejauh mana kita mampu memelihara rumah tangga kita untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warokhmah.
Ungkapan “Mikul Ngisor” bermakna implementasi tanggung jawab dalam menjaga kelangsungan generasi penerus. Yakni tanggung jawab kepada istri dan dan anak.
Adalah menjadi tanggung jawab lelaki sebagai pemimpin rumah tangga untuk dapat memuliakan istri, dan mencerdaskan anak anaknya.
Tidak sedikit kaum lelaki gagal menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga. Karena faktor yang sepele, yakni kepincut dengan perempuan lain. Sehingga melupakan tanggung jawabnya kepada keluarga. Kalau hal ini terjadi, maka akan timbul rentetan alasan untuk menutupi segala bentuk kebohongan.
...................
Ahhhhh.kamu sekarang sudah menjadi lelaki.
Belajarlah menjadi lelaki sejati, belajarlah jadi ksatria sejati.
Hidup ini laksana gelanggang perkelahian,.
Senjatamu adalah keputusanmu.
Kemenanganmu ditentukan oleh keputusanmu.
Kemenanganmu berada pada keputusamu untuk tetap setia
kepada dirimu, setia kepada istrimu, setia kepada anak2mu.
Kesetiaan adalah Panglimamu.
Kebenaran dan kebaikan adalah nyawamu.
Dan.....jika panglimamu terkapar, tergolek kalah bertarung dan tewas
Maka kebenaran dan kebaikan akan loncat dari dalam ragamu.
Maka kau akan berjalan terseok laksana mayat hidup yang hanya punya nafsu.
Tak ada lagi yang berharga didalam diri.
Bangun wahai kesetiaan, Ayo bangun...., panglima !!!
Gunakan senjatamu.
Disarikan dari “Bende Mataram” karya Herman Prathikto.
Pada hari Sabtu wage tanggal 31 Mei 2008, para sejawat Gerak Badan Margaluyu Pusat baru saja menyelesaikan pelatihan wajib sampai jurus 10. Slametan /syukuran atas usaha keras dalam berlatih jurus jurus wajib Margaluyu Pusat patut disyukuri. Dengan selametan sederhana yang terdiri uga rampe pala gumantung, pala kesampar dan pala kependem serta kopi pahit dan manis.

